Tri Hita Karana, Perangkat Lunak Pencapai Keharmonisan dan Kearifan Lokal - Lascarya

Post Top Ad

Friday, November 25, 2016

Tri Hita Karana, Perangkat Lunak Pencapai Keharmonisan dan Kearifan Lokal


Istilah Tri Hita Karana pertama kali muncul pada tanggal 11 Nopember 1966, pada waktu diselenggarakan Konferensi Daerah l Badan Perjuangan Umat Hindu Bali bertempat di Perguruan Dwijendra Denpasar.
Konferensi tersebut diadakan berlandaskan kesadaran umat Hindu akan dharmanya untuk berperan serta dalam pembangunan bangsa menuju masyarakat sejahtera, adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Kemudian istilah Tri Hita Karana ini berkembang, meluas, dan memasyarakat. Tri Hita Karana berasal dari bahasa sansekerta dari kata Tri yang berarti tiga, Hita berarti sejahtera danKarana berarti penyebab. Pengertian Tri Hita Karana adalah tiga hal pokok yang menyebabkan kesejahteraan dan kemakmuran hidup manusia.

Secara leksikal Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kesejahteraan. (Tri = tiga, Hita = sejahtera, Karana = penyebab). Pada hakikatnya Tri Hita Karana mengandung pengertian tiga penyebab kesejahteraan itu bersumber pada keharmonisan hubungan antara:
  1. Manusia dengan Tuhannya.
  2. Manusia dengan alam lingkungannya.
  3. Manusia dengan sesamanya.
Konsep ini muncul berkaitan erat dengan keberadaan hidup bermasyarakat di Bali. Berawal dari pola hidup ini muncul dan berkaitan dengan terwujudnya suatu desa adat di Bali. Dengan demikian suatu ciri khas desa adat di Bali minimal mempunyai tiga unsur pokok,yakni :wilayah, masyarakat dan tempat suci untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi. Perpaduan tiga unsur itu secara harmonis sebagai landasan untuk terciptanya rasa hidup yang nyaman, tenteram, dan damai secara lahiriah maupun bathiniah. Menurut Wiana (2004:141) falsafah hidup berdasarkan Tri Hita Karana ini memang sudah diajarkan dalam kitab suci Bhagawad Gita III.10, meskipun dalam kitab tersebut tidak bernama Tri Hita Karana, dalam kitab tersebut  dinyatakan Tuhan (Prajapati) telah beryadnya menciptakan alam semesta dengan segala isinya. Karena iti manusia (Praja) hendaknya beryadnya kepada Tuhan (Prajapati), kepada sesama manusia (Praja) dan kepada lingkungannya (Kamadhuk).


Penerapan Tri Hita Karana

Adapun bidang garapan Tri Hita Karana dalam kehidupan bermasyarakat,adalah sebagai berikut:
1.    Bhuana dan Karang Desa. (Palemahan)
Bhuana adalah alam semesta. Karang Desa adalah wilayah territorial dari suatu desa adat yang telah ditentukan secara definitif batas kewilayahannya dengan suatu upacara adat keagamaan.

2.    Kerama Desa Adat (Pawongan)
Yaitu kelompok manusia yang bermasyarakat dan bertempat tinggal di wilayah desa adat yang dipimpin oleh seorang Bendesa Adat dan dibantu oleh prajuru (aparatur) desa adat lainnya seperti kelompok-kelompok Mancagra, Mancakriya dan pemangku bersama-sama  masyarakat desa membangun keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

3.    Tempat Suci (Parahyangan)
                 Adalah tempat untuk memuja Tuhan/Sang Hyang Widhi dan Sang Hyang Widhi sebagai pujaan bersama yang diwujudkan dalam tindakan dan tingkah laku sehari-hari. Tempat pemujaan ini diwujudnyatakan dalam bentuk Pura Kayangan Tiga. Setiap desa adat di Bali wajib memilikinya.. Pura Kayangan Tiga itu adalah : Pura Desa,Pura Puseh,Pura Dalem.Pura Kahyangan Tiga di desa adat di Bali seolah-olah merupakan jiwa dari Karang Desa yang tak terpisahkan dengan seluruh aktifitas dan kehidupan desa.

Penerapan Tri Hita Karana dalam kehidupan umat Hindu di Bali dapat dijumpai dalam perwujudan:
a.    Parahyangan
·         Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat
·         Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah
·         Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga
b.    Palemahan
·         Pelemahan di tingkat daerah meliputi wilayah Propinsi Bali
·         Di tingkat desa adat meliputi "asengken" bale agung
·         Di tingkat keluarga meliputi pekarangan perumahan
c.    Pawongan
·         Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali
·         Untuk di desa adat meliputi krama desa adat
·         Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga

 Manfaat Tri Hita Karana dalam Kehidupan

Dalam Rangka Melestarikan Lingkungan Hidup di dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, kesehariannya menganut pola Tri Hita Karana. Tiga unsur ini melekat erat setiap hati sanubari orang Bali. Penerapannya tidak hanya pada pola kehidupan desa adat saja, namun tercermin dan berlaku dalam segala bentuk kehidupan bermasyarakat, maupun berorganisasi.

Desa Adat terdiri dari kumpulan kepala keluarga (KK). Mereka bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluargganya.Setiap keluarga menempati Karang Ayahan Desa, yang disebut karang sikut satak. Disinilah setiap KK bebas mengatur keluarganya. Pola Kehidupan mereka tank lepas dari pola Tri Hita Karana, hal ini dapat dilihat dari Karang  Sikut  Satak yang ditempati. Secara umum penempatan bangunan di karang itu berpolakan: Utama Mandala, tempat bangunan suci untuk memuja Sang Hyang Widhi dan Para Leluhur, letaknya di Timur Laut pekarangan dinamakan Sanggah Kemulan. Madya Mandala tempat untuk membangun rumah, Balai Delod, Dapur, Kamar Mandi, Lumbung dan bangunan lainnya.

Nista Mandala tempat membangun Kori Agung,Candi Bentar, Angkul-angkul tempat masuk ke pekarangan sikut satak. Di luar pekarangan sikut satak namanya teba. Di teba inilah tempat krama Bali membangun ekonominya dengan bercocok taman seperti kelapa, pisang, nangka, durian dan tanaman lain yang memiki nilai ekonomis. Di tempat ini pula anggota keluarga membuat kandang sapi, babi, ayam, itik, kambing dan peliharanaan lainnya, sebagai wujud pelestarian lingkungan. Setiap unit kehidupan masyarakat Hindu di Bali senantiasa berkiblat kepada ajaran dari falsafah Tri Hita Karana, dan telah tercermin dalam hidup harmonis di masyarakat dengan suku bangsa lainnya di Indonesia, bahkan terhadap para wisatawan yang berkunjung ke Bali.  

Konsep Ajeg Bali

Secara harfiah, kata “ajeg” bermakna kukuh, tidak goyah, tegak, dan lestari. Kalau disandingkan, kata “ajeg” dan Bali berarti Bali yang kukuh atau Bali yang tidak goyah. Menurut  Wijaya dalam penelitiannya  “Ajeg Bali” merupakan semua bentuk kegiatan yang bercita-cita menjaga identitas kebalian orang Bali, yang dibentuk dengan cara mengartikulasikan Bali sebagai konsep kebudayaan, yang dimaknai sebagai adat dan agama leluhur. Ajeg Bali adalah upaya sepihak para intelektual organik yang memperoleh atau diberikan kekuasaan berbicara oleh penguasa untuk menciptakan simbol-simbol baru kebudayaan demi menjaga kebudayaan Bali. Menurut Wijaya, ada tiga belas sifat umum gerakan “Ajeg Bali”, di antaranya diskriminatif, confidential, refleksif, pemaskaran, replikasi, komoditifikasi, sentimen, resesif, desakralisasi, defensi dan agresi, kolaborasi, reproduksi, serta adverse. pemikiran tentang “Ajeg Bali” bukan berlandaskan pada realitas ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan bersifat artifisial dan ahistoris yang mengakibatkan terjadinya pertemuan timbal balik dan dialektis antara intelektual dan masyarakat. Padahal, penataan Bali semestinya dilakukan dengan cara terlebih dahulu mengganti sistem kebudayaan Bali dari yang berorientasi ke masa lampau menjadi ke masa depan.

Beberapa praktisi agama dan rohaniwan Hindu yang concern dan komit terhadap ajaran Hindu yang lebih universal, misalnya, memberikan makna ajeg Bali atau Ajeg Hindu sebagai upaya pemurnian pelaksanaan ajaran Hindu yang bersumber dari Weda dengan menekankan pada jiwa ajeg Bali atau inner power agama Hindu itu sendiri, yaitu tapas, yadnya, dan dharma (Agastya, 2004) dalam Kertih dan Sukadi. Tidak jauh berbeda dari pandangan ini. Menurut Seita (2004) dalam Kertih dan Sukadi, sebagai pengamat sosial, budaya, dan agama Hindu Bali yang berdomisili di Jakarta, menyatakan bahwa konsep ajeg Bali haruslah memiliki makna sebagai lestarinya agama Hindu yang lebih universal, yang bersumber dari ajaran Weda. Tidak ketinggalan, para seniman dan budayawan besar Bali juga berkomentar bahwa ajeg Bali harus dimaknai sebagai upaya pengembangan kehidupan berkesenian orang Bali sebagai inti persembahan kepada kemegahan dan keindahan Tuhan yang memungkinkan orang Bali Hindu berkereativitas dalam pengembangan budaya untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri cultural (cultural confidence) (Erawan, 2004; Geriya, 2004) dalam Kertih dan Sukadi


Mewujudkan Ajeg Bali Melalui Tri Hita Karana

Beragam pendapat masyarakat Bali terhadap kondisi Bali yang sekarang terjadi akibat perkembangan arus globalisasi yang begitu pesat. Sebagian beranggapan bahwa globalisasi merupakan “polusi kebudayaan” yang akan mengikis ke-Bali-an Bali. Dengan adanya pengaruh globalisasi yang begitu deras hingga konsep “ajeg Bali” muncul di tengah-tengah masyarakat sebagai respon terhadap perubahan yang muncul di masyarakat berkat kemajuan teknologi. Istilah “ajeg” merujuk kepada pengertian stabil , tetap, dan konstan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) disebutkan bahwa “ajeg” atau “ajek” (Jawa) bermakna tetap; tidak berubah. Satu hal yang tetap dalam kebudayaan adalah perubahannya. Yang ingin dipertahanakan oleh masyarakat Bali adalah nilai, yaitu agama Hindu yang menjadi nafas kehidupan masyarakat Bali. Teknologi menyebabkan perubahan praktik dan perubahan keemasan, namun esensinya harus tetap bertahan.

            Ajeg Bali meliputi berbagai hal di Bali, mulai dari sitem religi, ekonomi, seni-budaya, niaga, politik, lingkungan, politik, pendidikan, tata ruang, kependudukan, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan hal-hal lain yang menyangkut cara hidup masyarakat. Dalam sistem persubakan, misalnya, dilakukan “sterilisasi” wilayah subak dari pembangunan perumahan untuk melestarikan kondisi ekologis sekitar subak. Sosialisasi budaya Bali, seperti membuat janur, ditanamkan semenjak kanak-kanak dan merupakan bentuk ajeg Bali. Di sekolah perlu dikembangkan program pendidikan yang dapat memberdayakan siswa dalam ikut berpartisipasi mewujudkan nilai-nilai “Tri hita Karana”  dalam hubungannya dengan bagaimana menjaga Bali sekarang dan kedepan karena mereka nanti sebagai pewaris tanah Bali.  Kesadaran itu penting karena Bali yang identik dengan keindahan, kenyamanan, dan keharmonisan sudah mulai terusik. Faktanya tanah Bali yang merupakan bagaian dari tanah adat makin banyak berpindah tangan. Jumlah pendatang (terutama dari Jawa) semakin menjadi ancaman, peluang kerja orang Jawa cukup banyak sementara masyarakat Bali sibuk dengan banyaknya upacara, orang Jawa mengambil alih waktu-waktu tersebut di sektor ekonomi.

 Ajeg Bali terinspirasi oleh nilai-nilai yang dianut dalam agama Hindu, yang diwujudkan dalam ajaran “Tri Hita Karana” yang berarti tiga penyebab kebahagiaan atau kemakmuran. Ketiga konsep tersebut adalah Parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan manusia dengan alam). Dalam pelaksanaannya konsep Ajeg Bali dimaknai dalam tiga tataran, yaitu dalam tataran individu ; ajeg Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki kepercayaan diri kultural (cultural confidence) yang bersiat kreatif dan tidak membatasi diri pada hal-hal fisikal semata. Kedua, dalam tataran lingkungan kultural; ajeg Bali dimaknai sebagai sebuah ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multikultur, dan selektif terhadap pengaru-pengaruh luar. Terakhir, dalam tataran proses kultural; ajeg bali merupakan interaksi manusia dengan ruang hidup budayanya guna melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses yang berdasarkan nilai-nilai moderat (tidak terjebak pada romantisme masa lalu maupun godaan dunia modern), non-dikotomis, berbasis pada nilai-nilai kultural, dan kearifan lokal, serta memiliki kesadaran ruang (spasial) dan waktu yang mendalam. Dalam ketiga tataran tersebut, disepakati bahwa ajeg Bali bukanlah sebuah konsep yang stagnan, melainkan upaya pembaharuan terus-menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali untuk menjaga identitas, ruang, serta proses budayanya agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global. 

Tradisi budaya Bali tidak bisa dipisahkan dengan Agama Hindu. Sebelumnya harus dipisahkan soal “adat keagamaan” dan “adat kebiasaan”. Sayangnya keseluruhan hidup masyarakat Bali, termasuk adat kebiasaan, merupakan bentuk representasi dari agama Hindu, sehingga sulit sekali untuk membedakan sakral dan profan. Dalam tari-tarian, dapat dipisahkan secara jelas terdapat seni tari wali yang sakral dan religius, seni tari Bebali adalah tarian seremonial, dan seni tari Balih-balihan yang sekuler. Pada praktiknya masyarakat Bali tidak pernah terlepas dari Tri Hita Karana, apa yang mereka lakukan selalu berlandaskan hal tersebut. Masyarakat Bali tidak pernah terlepas dari ritual agama Hindu yang selalu mencari keseimbangan dalam hampir setiap kegiatan hidupnya. Kalau kita berpikir sederhana, selama ada canang (sesajen dari janur kelapa berisi bunga dan dupa), nilai-nilai agama hindu yang merupakan core of the culture, akan tetap bernafas tenang dalam kehidupan manusia Bali.






sumber : tavong kusuma

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih Tuhan...
Selalu Bersyukur dalam semua keadaan
Lascarya

Post Top Ad